Selamat Datang...

Berbagi, Manfaat .....

Jumat, 07 Juni 2013

Keluarga

Mengutip Makalah yang saya persiapkan untuk mengikuti seleksi Guru Berprestasi tingkat Kota Banjarmasin. Dan panggalan ini, adalah panggalan yang paling menguras emosi dan tenaga. Karena aku bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa jika Allah tidak menghadiahkan mereka dalam hidupku (Keluargaku)... ini persembahanku untuk kalian sayangku.




Keluarga sebagai sel terkecil dalam sebuah komunitas masyarakat, memiliki andil yang sangat besar dalam membentuk pribadi yang unggul dan berprestasi. Terlahir sebagai saudara terkecil diantara lima orang  saudara  perempuan membuat saya dapat bercermin dari keberhasilan kakak-kakak saya. Orang tua yang rela merantau demi keberhasilan anak-anaknya menyadarkan saya bahwa untuk menjadi pribadi yang bermanfaat harus rela berkorban. Ayah dan Ibu adalah sosok yang sangat agung untuk bercermin, meski keduanya bukan sarjana, namun setiap kata-kata yang mereka ucapkan sebagai nasehat untukku, seakan-akan itu adalah kutipan dari Jean Piget, John Dewey, Ibnu Khaldun atau Ki Hajar Dewantara. Mereka adalah inspirasi bagiku, hingga kini di setiap prestasi atau prestise yang saya capai adalah berkat bimbingan keduanya, berusaha dan selalu berharap saya dapat membuat mereka bangga. Ketika saya terlahir di tanah perantauan orang tua Mekkah Arab Saudi, ayah dan ibu hanyalah  pekerja musiman, yaitu pembantu syekh menerima dan melayani Jamaah haji yang datang sekali dalam setiap setahun. Berkat kebaikan syekh kami mendapatkan tempat tinggal dan bernaung. Namun di usia sekolah dasar saya, orang tua saya harus kehilangan pekerjaan itu karena pemerintah Arab saudi menghapus sistem bimbingan syekh ke Muasassah yang bertanggung jawab atas pelayanan jemaah haji.
Namun orang tua selalu berusaha untuk dapat mencarikan nafkah bagi anak-anaknya yang ditinggal di tanah air, juga bagi anak-anak yang tinggal bersamanya di perantaun. Ingatan saya masih lekat dengan sosok ayah yang gigih bekerja apa pun yang dapat dilakukannya asalkan mendapatkan apa yang dibutuhkan anak-anaknya: Pendidikan yang terbaik. Tak peduli bekerja siang hari di tanah tandus dengan temperatur ± 45oC, atau malam hari ketika suhu ekstrim padang pasir berubah menjadi sangat dingin.
Dibalik perjuangan orang tua ini, saya mendapatkan pendidikan yang dapat saya banggakan. Duduk di bangku yang sama dengan anak pribumi merupakan sebuah kebanggan, bahkan saya dapat meraih nilai di atas rata-rata selama 9 tahun keberadaan saya di sekolah dasar dan sekolah menengah.  Dan ini adalah prestasi bagi saya berada di tanah asing dan menjadi siswa rangking tiga terbesar di setiap tahunnya, mengalahkan anak-anak pribumi, untuk membuktikan kepada orang tua saya bahwa mereka tidak sia-sia bekerja siang malam demi keberhasilan anaknya.
Jika orang tua menjadi dasar atau akar dari sebuah prestasi, maka anak dan buah hati adalah sebuah prestasi yang berakar dari orang tua. Kisah lain dari kehidupan saya sebagai orang tua. Beberapa bulan setelah menjalankan tugas sebagai Guru saya melahirkan anak pertama, dia seorang putri yang menjadi bibit yang harus saya sirami dengan segenap pengetahuan dan skill yang saya miliki untuk membantunya tumbuh sebaik mungkin untuk menjadi anggota masyarakat yang baik. Namun, tantangan ini sudah terasa terjal di bulan keempat usia anak saya ketika saya mencurigai abnormal padanya. Putri pertama saya tidak terkejut atau menangis ketika terdengar suara keras seperti suara guntur atau suara pintu yang tertutup dengan keras. Kecurigaan ini berlangsung tanpa mendapatkan diagnosis yang pasti dari dokter hingga usia 14 bulan. Di usia 14 bulan lah, saya mendapatkan vonis bahwa putri saya total deafness (tuli total), tentu saja vonis ini membuat saya terpukul, merasakan semua yang saya pandang berputar-putar sekaligus merasakan dunia berhenti berputar, saya hanya berpikir apa yang harus saya lakukan untuk tetap dapat membangun harapan-harapan indah untuknya.
Dukungan yang mengalir dari orang tua, kakak, kerabat dan tentu saja dari suami perlahan menguatkan semangat dan tekad saya, bahwa ini bukan akhir dari segalanya, namun ini adalah awal dari sebuah tantangan hidup. Setelah konsultasi yang panjang dengan berbagai pihak (dokter, psikolog, trapis wicara, guru SLB, konsultan alat-alat bantu dengar) untuk menemukan cara terbaik sebagai solusi, saya mengerti dan meyakini bahwa di balik setiap kekurang terdapat banyak kelebihan yang tidak ditemukan pada anak yang normal. Anak saya, adalah hadiah istimewa untuk saya. Saya belajar unuk menghargai potensi yang telah Tuhan berikan pada tiap-tiap insan, menghargai sebuah kekurangan untuk menemukan kelebihan yang tersembunyi dibaliknya.
Seiring perjalanan waktu, saya mengandung anak yang kedua. Pada 6 bulan kehamilan saya, ibunda tercinta dipanggil untuk menghadap Sang Pencipta, kepulangan beliau menuntut saya untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan mandiri dalam menghadapi hidup. Enam bulan pasca kelahiran anak kedua, saya dihadapkan pada tantangan baru. Suami saya yang berprofesi sebagai guru SD, mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan S2 di Yogyakarta atas biaya Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Meski saya juga mempunyai keinginan yang sangat kuat untuk mengikuti program yang sama, namun keinginan itu terhalang oleh persyaratan administrasi dan birokrasi (Pangkat dan golongan).
Keberangkatan suami saya ke Yogyakarta, menghadapkan saya pada kenyataan  untuk mengasuh kedua anak kami sendiri. Ayahandalah yang menjadi kawan yang selalu menyokong dan membantu saya dalam mendidik anak-anak. Namun itu hanya berlangsung kurang dari enam bulan, Kesehatan Ayahanda yang sudah di usia 70-an semakin menurun, hingga akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhirnya, meninggalkan kesan dalam hidup saya bahwa manusia dilahirkan untuk selalu belajar, dibimbing oleh orang tua, guru, atau teman. Namun pada akhirnya manusia harus berpisah dari mereka yang telah membimbingnya untuk menjadi pribadi yang mandiri, tabah, kuat, namun tetap selalu memberikan manfaat bagi sesama.
Mencapai perjalanan panjang, berusaha menjadi anak yang patuh pada kedua orang tua, membanggakan mereka, melahirkan dan membesarkan kedua anak saya dengan segala kekurangan dan kelebihan mereka, memotivasi suami menyelesaikan tugas belajarnya adalah prestasi yang paling membanggakan bagi saya sebagai bagian dari sebuah keluarga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar